![]() |
| via youtube.com |
Tidak perlu
perdebatan panjang tentang sosok Koes Plus di mata masyarakat Indonesia.
Band yang menjadi tonggak musik pop modern di Indonesia ini memiliki
puluhan hit yang dihafal luar kepala oleh orang-orang di segala penjuru
Nusantara.
Menengok ke belakang, Koes Plus memiliki perjalanan yang berliku. Pada tahun 1965, sebelum peristiwa G30S PKI meletus, para personel Koes Plus dijebloskan ke penjara. Hal itu terjadi tepatnya pada bulan Juni.
Menengok ke belakang, Koes Plus memiliki perjalanan yang berliku. Pada tahun 1965, sebelum peristiwa G30S PKI meletus, para personel Koes Plus dijebloskan ke penjara. Hal itu terjadi tepatnya pada bulan Juni.
Alasannya terbilang sederhana, jika dipikir dengan konteks kultur dan
politik era kini. Mereka membawakan lagu milik the Beatles yang berjudul
I Saw Her Standing There dalam sebuah pesta di rumah Kolonel Koesno di daerah Petamburan, Jakarta Barat.
Membawakan lagu milik the Beatles membuat Koes Plus tidak dianggap pro-nasionalisme. Sesuatu yang sangat sensitif pada iklim politik masa itu. Lantas, benarkah hal sedangkal itu jadi alasan menjebloskan putra-putra bangsa paling kreatif ke balik teralis besi?
Dalam buku Kisah dari Hati: Koes Plus Tonggak Industri Musik Indonesia karya Ais Suhana, terungkap apa yang terjadi sebenarnya di balik peristiwa pemenjaraan Koes Plus.
"Jika tidak terjadi peristiwa G30S, Gerakan 30 September 1965, Kus Bersaudara hampir pasti dikirim ke Malaysia melaksanakan misi rahasia negara," seperti tertulis dalam buku itu.
Yok Koeswoyo pun membenarkan hal itu, "Pemberitaan selama ini keliru.
Kus Bersaudara waktu itu ternyata dirancang sedemikian rupa sebagai
korban karena membawakan lagu-lagu the Beatles."
Meruntut tentang situasi politik pada era itu, Indonesia memang sedang dalam tensi tinggi dengan Malayasia.
Pada awal dekade 1960-an, Malaysia sedang menyusun entitas dan identitas baru. Soekarno pada waktu itu tegas menentang adanya "negara boneka" di sekitar Indonesia yang merujuk pada Malaysia. Hal ini berujung dengan konfrontasi langsung yang terjadi di wilayah Kalimantan.
Sebagaimana yang terjadi di belahan dunia manapun, seni adalah amunisi yang sewaktu-waktu bisa digunakan penguasa untuk memuluskan tujuan politik. Bukan tidak mungkin jika pada waktu itu misi rahasia yang disiapkan adalah untuk menghimpun kekuatan pro-Indonesia dengan menghajar negara tetangga dengan panggung-panggung musik dari musisi Indonesia.
Jika itu tujuannya, mengapa harus menjebloskan Koes Plus ke penjara? Jawabannya adalah adanya upaya membentuk opini di Malaysia bahwa pemerintah Indonesia 'benci' dengan Koes Plus, sehingga mereka akan lebih mudah jika disusupkan ke sana.
Meski rencana ini batal lantaran prahara G30S PKI menghantam Indonesia, tetapi cara serupa tetap dilakukan untuk kasus lainnya, yaitu pemetaan politik masyarakat di Timor Leste (Timor Portugis pada waktu itu).
Pada tahun 1974, di bawah rezim Orde Baru, Koes Plus tampil di Timor Leste. Masih dalam pembahasan Ais Suhana, Koes Plus disebut dikirim ke sana untuk melihat bagaimana condong sikap politik masyarakat Timor Leste, apakah pro-Indonesia atau tetap bersikukuh berkiblat ke Portugal.
Biar bagaimanapun, seni termasuk musik merupakan bagian dari kultur masyarakat yang kekuatannya maha-dahsyat jika diberdayakan.
Dalam tiap era, seni memiliki peran tersendiri dalam membentuk kultur, penyebar opini juga jadi penyulut api pergerakan. Koes Plus adalah potret bagaimana dendangan lagu bisa jadi senjata mematikan, yang sungguh berbisa tanpa harus menggigit.
(AWP)
Membawakan lagu milik the Beatles membuat Koes Plus tidak dianggap pro-nasionalisme. Sesuatu yang sangat sensitif pada iklim politik masa itu. Lantas, benarkah hal sedangkal itu jadi alasan menjebloskan putra-putra bangsa paling kreatif ke balik teralis besi?
Dalam buku Kisah dari Hati: Koes Plus Tonggak Industri Musik Indonesia karya Ais Suhana, terungkap apa yang terjadi sebenarnya di balik peristiwa pemenjaraan Koes Plus.
"Jika tidak terjadi peristiwa G30S, Gerakan 30 September 1965, Kus Bersaudara hampir pasti dikirim ke Malaysia melaksanakan misi rahasia negara," seperti tertulis dalam buku itu.
Meruntut tentang situasi politik pada era itu, Indonesia memang sedang dalam tensi tinggi dengan Malayasia.
Pada awal dekade 1960-an, Malaysia sedang menyusun entitas dan identitas baru. Soekarno pada waktu itu tegas menentang adanya "negara boneka" di sekitar Indonesia yang merujuk pada Malaysia. Hal ini berujung dengan konfrontasi langsung yang terjadi di wilayah Kalimantan.
Sebagaimana yang terjadi di belahan dunia manapun, seni adalah amunisi yang sewaktu-waktu bisa digunakan penguasa untuk memuluskan tujuan politik. Bukan tidak mungkin jika pada waktu itu misi rahasia yang disiapkan adalah untuk menghimpun kekuatan pro-Indonesia dengan menghajar negara tetangga dengan panggung-panggung musik dari musisi Indonesia.
Jika itu tujuannya, mengapa harus menjebloskan Koes Plus ke penjara? Jawabannya adalah adanya upaya membentuk opini di Malaysia bahwa pemerintah Indonesia 'benci' dengan Koes Plus, sehingga mereka akan lebih mudah jika disusupkan ke sana.
Meski rencana ini batal lantaran prahara G30S PKI menghantam Indonesia, tetapi cara serupa tetap dilakukan untuk kasus lainnya, yaitu pemetaan politik masyarakat di Timor Leste (Timor Portugis pada waktu itu).
Pada tahun 1974, di bawah rezim Orde Baru, Koes Plus tampil di Timor Leste. Masih dalam pembahasan Ais Suhana, Koes Plus disebut dikirim ke sana untuk melihat bagaimana condong sikap politik masyarakat Timor Leste, apakah pro-Indonesia atau tetap bersikukuh berkiblat ke Portugal.
Biar bagaimanapun, seni termasuk musik merupakan bagian dari kultur masyarakat yang kekuatannya maha-dahsyat jika diberdayakan.
Dalam tiap era, seni memiliki peran tersendiri dalam membentuk kultur, penyebar opini juga jadi penyulut api pergerakan. Koes Plus adalah potret bagaimana dendangan lagu bisa jadi senjata mematikan, yang sungguh berbisa tanpa harus menggigit.
(AWP)

0 comments
Post a Comment